SITUS JEJAK KAKI TUK LAYANG

  • Aug 17, 2023

Salah satu sejarah dari gunung riting yaitu cerita tuk layang. Suatu hari beliau pergi ke kebun, dan istrinya berada dirumah. Sedangkan waktu itu adalah zaman lanun (bajak laut). Karena antisipasi terhadap keberadaan lanun, tuk layang menarik perahu miliknya ke daratan yang jaraknya 3 km dari pantai, salah satunya gunung riting agar tidak diganggu oleh lanun saat diitinggal. Dulunya  suatu tempat digunung riting ada parong bela (bekas perahu tuk layang yang ditarik tadi) dan akhirnya sampai disuatu tempat yang namanya labon bilik (tempat perahu tuk layang) yang masih di desa gunung riting.

Setelah beliau pulang dari kebun, istri tuk layang sudah tidak ada dirumah karena diculik oleh para lanun. Karena tidak tinggal diam akhirnya dicarilah istrinya. Pada saat ketemu istrinya pun sudah jadi tawanan lanun. Akan tetappi tuk laying juga ingin ikut dibawa oleh para lanun. Setelah ingin berlayar, galah (dayung) kurang pas atau kurang besar sehingga kurang sehingga beliau kembali ke darat untuk menebang pohon nibong yang paling tinggi untuk digunakan galah. Tuk layang berpesan kepada para lanun-lanun tersebut untuk mengikat istri tuk layang, sehingga istri tuk layang pun diikat. Setelah dipertengahan laut, tuk layang menggalah para lanun-lanun dari arah kiri dan kanan sehingga semua lanun-lanun tersebut jatuh ke dalam laut.

Itulah alasan mengapa tuk layang menyarankan lanun-lanun tadi untuk mengikat istrinya, agar istri beliau tidak jatuh ke laut saat beliau menggalah lanun-lanun tersebut ditengah laut. Ternyata dari awal semua ini adalah rencana dari tuk layang. Selamatlah tuk layang dan istrinya dan kembali kerumah.

Tuk layang juga memiliki bekas telapak kaki yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan dengan ukuran kaki manusia sekarang. Hal tersebut ditemukan oleh seorang kiyai dari jawa timur teman dari pak abdul fatah dan mengatakan bahwa bekas telapak kaki tersebut adalah milik sunan bonan (tuk layang). Diseluruh Belitung ada berbagai cerita tentang tuk layang.