SITUS MAKAM TUK BADI

  • Aug 17, 2023

TPU ini dulunya adalah bekas tanah wakaf dari ulama besar capon yaitu tuk badi/sa’ad dan ibunya bernama nek rentam, tetapi masyarakat daerah gunung riting tidak ada yang mengenal beliau dengan nama tuk sa’ad. TPU ini dulunya adalah bekas pesantren milik tuk badi. Nama tuk badi dikenal dengan artian cacat atau tidak bisa jalan, akan tetapi beliau rajin bekerja, bercocok tanam, cabut rumput liar dikebun dan pekarangan rumahnya yang dibantu oleh istri dan para santri. Tuk badi ke masjid dengan menyeret dirinya menggunakan upe (pelepah pinang) untuk juma’atan yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah beliau ke masjid di desa mentigi sekarang. Beliau dulunya tinggal di depan TPU bersama istrinya nek nur. Dari cerita terdahulu yang ada di desa gunung riting dulunya tegel (tanjakan) yang ada di depan tempat tinggal beliau dinamakan tegel nek nur yang sekarang sudah hampir dilupakan dan berubah jadi tegel cawat. Karena di depan pantai cawat, maka tuk badi merupakan seorang ulama capun. Karena kemampuan beliau menghafal Al-Qur’an dan Hadist sehingga banyak yang ikut menjadi santri ke beliau. Salah satu muridnya ialah kakek dari dukun yang ada di desa gunung riting yaitu pak fazli. Menurut cerita, kakek dari dukun fazli bukan dari asli cepun tapi beliau berasal dari daerah batang antara air kundur dan tanjung rusa. Kemudian selama nyantri beliau menikah dengan warga cepun yang keturunannya sampai ke dukun fazli sekarang.

Kembali ke tuk badi, konon menurut cerita tuk badi dapat menulis tangan Al-Qur’an 30 jus, sehingga orang tua dulunya berpesan kepada anak-anak untuk tidak kencing sembarangan karena dipercayaa bahwa banyak bekas Al-Qur’an tuk badi yang hancur bersama puing-puing bekas rumah beliau. Karena rasa ingin tahu tuk badi terhadap ilmu islam, beliau mengundang syeh dari timur tengah (namanya tidak diketahui) dua kali perkiraan pada tahun 1920 dan 1930. Dan dari cerita rakyat, syeh tersebut diundang oleh tuk badi dengan ilmu kebatinan beliau.