SITUS MAKAM TUK BEDARE PUTIH

  • Aug 17, 2023

Balai ulu atau balai terdahulu di sebuah desa gunug riting terdapat empat bersaudara yang berasal dari majapahit yaitu tuk malem angin, tuk bemban, tuk siban, dan nek ncabi. Dari cerita yang di dengar, tuk malem angin ingin mengislamkan alam jin. Kemudian beliau berangkat ke puncak gunung gede dan sesampainya di puncak gunug gede, beliau mengumandangkan adzan, akan tetapi semakin lama suara adzannya semakin jauh dan akhirnya menghilang, dan sampai sekarang makamnya tidak ditemukan dan dipercaya bahwa tuk malam angin berada di alam jin.

Salah satu dari saudara nek ncabi yang katanya iri terhadap kesaktian nek ncabi karena ilmu nek ncambi lebih tinggi. Nek ncabi adalah orang pertama yang menjadi dukun kampung diwilayah kekuasaan kerajaan ludai. Karena kesaktiannya, nek ncabi ini pernah memasak satu ikan belanak dengan 7 macam masakan. Pada saat nek ncabi pergi mandi, ditembaklah oleh salah satu dari saudaranya tadi dengan peluru petunang, akan tetapi peluru tersebut tidak mampan karena kesaktian nek ncabi, maka peluru tersebut nyangkut di bundalan rambut nek ncabi. Setelah selesai mandi, pelurunya dikembalikan ke saudaranya tersebut. Karena merasa malu terhadap nek ncabi, saudaranya tersebut merantau ke Kalimantan.

Kemudian nek ncabi menikah dengan kek kranggo yang berasal dari timur tengah dan merupakan ajudan tuk bedare pute, tuk bedare pute atau bendahara putih yang nama aslinya tidak diketahui orang merupakan orang yang putih bersih (suci). tuk bedare pute adalah tukang sunat yang mengislamkan warga yang ingin masuk islam. Menurut cerita, kek kranggo orang yang sangat gagah, dada beliau lebar selebar tiga ruas tulang lengan orang normal sekarang dan merupakan seorang algojo. Karena yang disunat bukan hanya anak kecil melainkan juga orang dewasa karena takut kalah tenaga, maka kek kranggo lah yang bertugas memegang yang disunat dikarenakan kek kranggo adalah seorang yang kuat dan perkasa.

Tempat pelaksanaannya serta kegiatan islam lainnya ditempat balai ulu ini. warga sekitar yang belum masuk islam, masih memakan ular sabak (piton) sehingga sampai sekarang masih ada tempat salai sabak (panggang sabak) yang tidak jauh dari situs beliau. Tapi setelah masuk islam, tempat tersebut hanya menjadi sejarah dan tidak digunakan lagi. Makam kek kranggo dan tuk bedare pute sudah ada di gunung riting sebelum berdirinya surau-surau tempat kumpul.

Menurut cerita dari majapahit, sampai sekarang keluarga nek ncabi masih memiliki senjata pusakanya, ada juga seperangkat gamelan seperti gong yang disimpan dalam Museum di Tanjung Pandan. Makam beliau terletak diatas gunung gede di dusun parang buluh. Arah barat dari makam dan ada batu sarang gong milik beliau.